Kultum: Semua amal disebut umum, tapi puasa dikhususkan
Ada orang sangat disiplin saat puasa. Sahur tepat waktu, berbuka tepat waktu. Tapi ketika adzan selesai, emosinya tetap tak terkendali. Sedikit salah paham, langsung marah. Seolah-olah yang ditahan hanya makan, bukan kemarahan.
kalau puasa tidak membuat hati kita lebih lembut, mungkin kita hanya memindahkan jam makan, bukan memindahkan sifat. Apakah Allah menginginkan lapar kita, atau perubahan kita?
Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Imam Bukhari:
لِكُلِّ عَمَلٍ كَفَّارَةٌ، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal ada balasannya, dan puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Perhatikan susunannya: semua amal disebut umum, tapi puasa dikhususkan. Dalam balaghah, pengkhususan menunjukkan kemuliaan dan kedekatan. Seakan Allah berkata, “Kalau manusia tak menghargaimu, Aku yang akan memuliakanmu.”
Artinya: yang paling sulit dipamerkan, itulah yang paling dekat dengan keikhlasan.
Kita takut batal karena setetes cairan, tapi tak takut pahala berguguran karena setetes cacian. Kita jaga mulut dari makanan, tapi tidak dari ucapan.
Mulai hari ini, niatkan satu amal puasa yang benar-benar tak diketahui siapa pun. Perbanyak doa diam-diam. Maafkan orang tanpa diumumkan.
Puasa yang diterima bukan yang membuat kita lelah, tapi yang membuat kita lebih ramah. Puasa yang diterima bukan yang menjadikan kita lesu, tapi yang menjadikan jiwa lebih syahdu.
Semoga bermanfaat,
Admin MABDA