Kultum: Tanda pengorbanan, tanda kedekatan.
Ada orang yang saat puasa tetap tersenyum, padahal tenaganya lemah. Tapi ada juga yang baru jam sepuluh pagi sudah mengeluh, “Berat sekali hari ini.” Lapar yang sama, tapi sikapnya berbeda. Yang satu terasa teduh, yang lain mulai merasa mengeluh. Apa yang membedakan?
Coba kita bercermin: ketika lapar datang, yang keluar dari diri kita sabar atau keluhan?, Puasa ini memperlihatkan isi hati kita yang sebenarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Imam Bukhari:
وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi misk.”
Ini bukan soal aroma, tapi makna. Dalam balaghah, ini perbandingan nilai: sesuatu yang tampak kurang indah justru lebih mulia. Rumusnya jelas: tanda pengorbanan = tanda kedekatan. Bau itu bukti lapar; lapar itu bukti taat; taat itu bukti cinta.
Kadang kita sibuk kumur-kumur-kumur mulut biar wangi, tapi tak pernah “kumur-kumur hati” dari dengki. Mulutnya wangi, tapi hatinya penuh dendam dan kobaran api. Jangan-jangan yang bau bukan mulutnya, tapi hatinya.
Mulai hari ini, setiap terasa lapar, ucapkan dalam hati: ini bukti cintaku kepada Allah. Menahan segala emosi, senyum saat diuji, dan memperbaiki niat karena Allah dalam diri.
Puasa bukan tentang wangi di mulut, tapi wangi di hadapan Allah.
Semoga bermanfaat,
Admin Mabda