Tafsir Mufradat Al-Kahf/18:92-93
Terjemah ayat 92:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
Kemudian dia (Zulqarnain) mengikuti suatu jalan (sebab).
(Al-Kahf/18:92)
Irab dan terjemah per kata:
(ثُمَّ) حرف عطف (أَتْبَعَ) ماض فاعله مستتر (سَبَباً) مفعول به والجملة معطوفة.
ثُمَّ: حَرْفُ عَطْفٍ لِلتَّرَاخِي، لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
(“Kemudian” adalah huruf ‘athaf yang menunjukkan urutan dengan jeda waktu, tidak memiliki kedudukan i‘rab)
اَتْبَعَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، وَفَاعِلُهُ ضَمِيرٌ مُسْتَتِرٌ تَقْدِيرُهُ هُوَ (ذُو الْقَرْنَيْنِ).
(“Dia telah mengikuti” adalah fi‘il mâdhi mabni atas fathah, dan fa‘ilnya dhamir tersembunyi تقديره هو (Zulqarnain))
اَتْبَعَ، يُتْبِعُ، اَتْبِعْ، إِتْبَاعٌ، مُتْبِعٌ، مُتْبَعٌ
(mengikuti, menyusulkan)
سَبَبًا: مَفْعُولٌ بِهِ مَنْصُوبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.
(“Suatu jalan/sebab” adalah maf‘ul bih dalam keadaan manshûb, dengan tanda nashabnya berupa fathah yang tampak)
سَبَبٌ، سَبَبَانِ، أَسْبَابٌ
(jalan, sebab-sebab)
==========
Terjemah ayat 93:
حَتّٰى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا
Hingga apabila dia (Zulqarnain) telah sampai di antara dua gunung (dua dinding), dia (Zulqarnain) mendapati di belakang keduanya (dua gunung itu) suatu kaum yang mereka (kaum itu) hampir tidak memahami suatu perkataan.
(Al-Kahf/18:93)
Irab dan terjemah per kata:
(حَتَّى) حرف غاية وجر (إِذا) ظرف لما يستقبل من الزمن يتضمن معنى الشرط (بَلَغَ) ماض وفاعله مستتر (بَيْنَ) ظرف مكان متعلق ببلغ (السَّدَّيْنِ) مضاف إليه مجرور بالياء (وَجَدَ) ماض فاعله مستتر والجملة جواب الشرط (مِنْ دُونِهِما) متعلقان بوجد والهاء مضاف إليه (قَوْماً) مفعول به (لا يَكادُونَ) لا نافية ومضارع ناقص مرفوع بثبوت النون والواو في محل رفع اسمها والجملة صفة لقوما (يَفْقَهُونَ) مضارع والواو فاعله والجملة خبر يكادون (قَوْلًا) مفعول به
حَتّٰى: حَرْفُ غَايَةٍ وَجَرٍّ أَوِ ابْتِدَاءٍ، لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
(“Hingga” adalah huruf ghayah dan jar atau ibtida’, tidak memiliki kedudukan i‘rab)
إِذَا: ظَرْفٌ لِمَا يُسْتَقْبَلُ مِنَ الزَّمَانِ، مُتَضَمِّنٌ مَعْنَى الشَّرْطِ، فِي مَحَلِّ نَصْبٍ.
(“Apabila” adalah ظرف untuk waktu yang akan datang dan mengandung makna syarat, dalam keadaan manshûb)
بَلَغَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، وَفَاعِلُهُ ضَمِيرٌ مُسْتَتِرٌ تَقْدِيرُهُ هُوَ (ذُو الْقَرْنَيْنِ).
(“Dia telah sampai” adalah fi‘il mâdhi mabni atas fathah, dan fa‘ilnya dhamir tersembunyi تقديره هو (Zulqarnain))
بَلَغَ، يَبْلُغُ، اُبْلُغْ، بُلُوْغٌ، بَالِغٌ، مَبْلُوْغٌ
(sampai, mencapai)
بَيْنَ: ظَرْفُ مَكَانٍ مَنْصُوبٌ وَهُوَ مُضَافٌ.
(“Di antara” adalah zharf makan dalam keadaan manshûb dan berkedudukan sebagai mudhaf)
السَّدَّيْنِ: مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُوْرٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْيَاءُ لِأَنَّهُ مُثَنًّى.
(“Dua gunung/dinding” adalah mudhaf ilaih dalam keadaan majrûr, dengan tanda jarnya berupa ya’ karena ia bentuk mutsanna)
السَّدُّ، السَّدَّانِ، السُّدُوْدُ
(benteng, dua benteng, benteng-benteng)
وَ: حَرْفُ عَطْفٍ، لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
(“Dan” adalah huruf ‘athaf, tidak memiliki kedudukan i‘rab)
وَجَدَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، وَفَاعِلُهُ ضَمِيرٌ مُسْتَتِرٌ تَقْدِيرُهُ هُوَ (ذُو الْقَرْنَيْنِ).
(“Dia mendapati” adalah fi‘il mâdhi mabni atas fathah, dan fa‘ilnya dhamir tersembunyi تقديره هو (Zulqarnain))
وَجَدَ، يَجِدُ، جِدْ، وُجُوْدٌ، وَاجِدٌ، مَوْجُوْدٌ
(mendapati, menemukan)
مِنْ: حَرْفُ جَرٍّ، لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
(“Dari/di belakang” adalah huruf jar, tidak memiliki kedudukan i‘rab)
دُوْنِهِمَا: دُوْنِ اسْمٌ مَجْرُوْرٌ بِمِنْ وَهُوَ مُضَافٌ، وَالضَّمِيرُ (هُمَا) مُضَافٌ إِلَيْهِ فِي مَحَلِّ جَرٍّ وَيَعُوْدُ إِلَى السَّدَّيْنِ.
(“Di belakang keduanya” adalah isim majrûr karena مِنْ dan sebagai mudhaf, sedangkan dhamir (هما) sebagai mudhaf ilaih dalam keadaan majrûr dan kembali kepada dua gunung)
قَوْمًا: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.
(“Suatu kaum” adalah maf‘ul bih dalam keadaan manshûb dengan tanda fathah yang tampak)
قَوْمٌ، — ، أَقْوَامٌ
(kaum, kaum-kaum)
لَا: حَرْفُ نَفْيٍ، لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ.
(“Tidak” adalah huruf nafi, tidak memiliki kedudukan i‘rab)
يَكَادُوْنَ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ، وَوَاوُ الْجَمَاعَةِ فَاعِلٌ.
(“Mereka hampir” adalah fi‘il mudhâri‘ marfû‘ dengan tanda raf‘nya tetapnya nun karena termasuk af‘âl khamsah, dan wawu jama‘ah sebagai fa‘il)
كَادَ، يَكَادُ، كِدْ، كَوْدٌ/كِيَادَةٌ، كَائِدٌ، مَكُوْدٌ
(hampir)
يَفْقَهُوْنَ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوْعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوْتُ النُّوْنِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ، وَوَاوُ الْجَمَاعَةِ فَاعِلٌ.
(“Mereka memahami” adalah fi‘il mudhâri‘ marfû‘ dengan tanda raf‘nya tetapnya nun karena termasuk af‘âl khamsah, dan wawu jama‘ah sebagai fa‘il)
فَقِهَ، يَفْقَهُ، اِفْقَهْ، فِقْهٌ، فَاقِهٌ، مَفْقُوْهٌ
(memahami)
قَوْلًا: مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ، وَعَلَامَةُ نَصْبِهِ الْفَتْحَةُ الظَّاهِرَةُ.
(“Suatu perkataan” adalah maf‘ul bih dalam keadaan manshûb dengan tanda fathah yang tampak)
قَوْلٌ، قَوْلَانِ، أَقْوَالٌ
(perkataan, perkataan-perkataan)
==========
Pelajaran:
Pertanyaan 1:
Mengapa Allah menyebut lagi, “ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا”?
Jawaban:
Dalam tasawuf ada rumus sederhana:
Nikmat + gerak = syukur
Nikmat − gerak = lalai
Karena hakikat syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan.
Dzulqarnain diberi kekuasaan. Tetapi apa yang ia lakukan? Ia bergerak. Ia mencari jalan. Ia tidak diam menikmati jabatan.
Dalam ilmu mantiq ada kaidah:
الْعَمَلُ ثَمَرَةُ الْفَهْمِ
Artinya, amal adalah buah dari pemahaman.
Jika seseorang benar-benar memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, maka ia akan bekerja. Jika ia tidak bergerak, berarti pemahamannya belum sempurna.
Contoh sederhana:
Seseorang diberi amanah menjadi ketua panitia. Jika ia sadar itu tanggung jawab, ia akan sibuk mengurus. Tetapi jika ia hanya ingin gelarnya, ia akan sibuk berfoto.
Tasawuf mengajarkan bahwa hati yang hidup akan bergerak dalam kebaikan.
Pertanyaan 2:
Mengapa disebut “لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا”?
Jawaban:
Ungkapan Allah:
لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا
Dalam balaghah disebut:
أُسْلُوبُ التَّقْلِيلِ
Yaitu gaya bahasa untuk menunjukkan kelemahan secara halus.
Bukan sekadar mereka tidak memahami bahasa, tetapi menunjukkan keterbelakangan mereka dalam peradaban dan komunikasi.
Tasawuf mengajarkan agar kita tidak meremehkan orang yang kurang ilmu. Sering kali orang yang kuat diuji melalui orang yang lemah.
Contoh:
Kadang seseorang berkata, “Dia tidak mengerti apa-apa,” atau “Hanya orang kampung.” Padahal bisa jadi Allah menjadikan kita sebab pertolongan bagi mereka.
Dzulqarnain tidak menghina mereka. Ia tidak merendahkan. Inilah adab hati.
Pertanyaan 3:
Apa inti pelajaran tasawuf dari dua ayat ini?
Jawaban:
Ada rumus tasawuf dalam kepemimpinan:
Kekuasaan − kesombongan = rahmat
Kekuasaan + kesombongan = bencana
Dzulqarnain memiliki kekuasaan, memiliki pasukan, memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki kesombongan. Maka ia menjadi rahmat bagi manusia.
Ayat ini bukan sekadar kisah perjalanan. Ini cermin untuk diri kita.
Jika diberi jabatan, apakah kita bergerak?
Jika diberi ilmu, apakah kita membantu?
Jika bertemu orang lemah, apakah kita meremehkan?
Tasawuf bukan tentang pakaian atau banyaknya wirid. Tasawuf adalah hati yang bersih ketika seseorang berada dalam posisi kuat.
Semoga bermanfaat.
Admin Mabda