Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khotbah Jumat: Kalau Kita Mengaku Mencintai Nabi, Apa yang Sudah Berubah dalam Hidup Kita?

 



Khotbah Jumat Minggu Ketiga Rabiul Awwal
Kalau Kita Mengaku Mencintai Nabi, Apa yang Sudah Berubah dalam Hidup Kita?

KHOTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهَ، أَمَّا بَعْدُ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ


Jemaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Swt.
Marilah kita memperbanyak pujian dan rasa syukur kepada Allah, karena hari ini Allah masih memberi kita kesempatan untuk datang ke rumah-Nya, masih diberi umur untuk bersujud, masih diberi kesehatan untuk mendengar nasihat, dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita baginda Nabi Muhammad Saw, manusia yang bukan hanya mulia karena kedudukannya, tetapi karena akhlaknya, kasih sayangnya, dan pengorbanannya untuk umatnya.

Oleh sebab itu, marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan memperbaiki ibadah, memperbaiki akhlak, dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama.

Jemaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Swt.
Hari ini kita memasuki minggu ketiga bulan Rabiul Awwal.
Bulan yang mengingatkan kita kepada seorang manusia yang namanya paling banyak disebut setelah nama Allah, seorang manusia yang kehadirannya mengubah sejarah, seorang manusia yang akhlaknya menjadi teladan bagi umat manusia, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Tetapi saya ingin mengajak jamaah untuk berpikir sebentar.
Kita sering mengatakan, “Saya cinta Rasulullah.”
Pertanyaannya sederhana. Kalau cinta itu benar, mana buktinya?

Sebab kalau seorang pemuda mengatakan, “Saya cinta kepada seorang gadis,” kita akan bertanya, “Apa buktinya?”
Kalau seorang anak mengatakan, “Saya cinta kepada ibuku,” kita juga akan bertanya, “Mana buktinya?”
Kalau seorang pegawai mengatakan, “Saya cinta kepada pekerjaanku,” kita pasti melihat dari kesungguhannya.
Lalu kalau seorang muslim mengatakan, “Saya cinta Rasulullah,” maka buktinya?

Allah Swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١ ( الاحزاب/33: 21)
Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.(Al-Ahzab/33:21)

Perhatikan ayat ini, Allah tidak hanya mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang harus kita kagumi, tapi Allah mengatakan: “أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ.” Teladan yang baik.

Artinya, Rasulullah bukan hanya untuk dikenang.
Rasulullah bukan hanya untuk diceritakan.
Rasulullah bukan hanya untuk dibacakan shalawatnya.
Tetapi Rasulullah adalah untuk diteladani.

Sehingga,
Kalau kita tahu Nabi penyayang, kita harus belajar menyayangi.
Kalau kita tahu Nabi pemaaf, kita harus belajar memaafkan.
Kalau kita tahu Nabi jujur, kita harus belajar jujur.
Kalau kita tahu Nabi lembut kepada keluarganya, kita harus belajar lembut kepada keluarga kita.
Kalau kita tahu Nabi peduli kepada orang miskin dan anak yatim, maka kepedulian itu harus muncul dalam kehidupan kita.

Jemaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Swt.
Ada satu hadis yang sangat menarik yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Ibnu Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”

Perhatikan apa kata nabi tadi:
Nabi tidak mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling terkenal (مِعْيَارُ الشُّهْرَةِ)”
Nabi tidak mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling banyak bicara (مِعْيَارُ الْكَلَامِ)”
Nabi tidak mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling banyak pengikutnya (مِعْيَارُ الْمُتَابَعَةِ)”

Tapi Nabi mengatakan:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.

Mengapa keluarga?
Karena di luar rumah, manusia bisa berpura-pura.
Di depan masyarakat, kita bisa tersenyum.
Di depan jamaah, kita bisa berbicara lembut.
Di depan orang yang kita hormati, kita bisa bersikap sopan.

Tetapi di rumah.
Di situlah karakter yang sebenarnya sering terlihat.
Istri tahu, suami tahu, anak tahu, orang tua tahu.
Maka jangan ukur akhlak seseorang hanya dari bagaimana ia berbicara di depan umum.
Lihat bagaimana ia berbicara kepada orang yang paling dekat dengannya.
Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepadanya.
Itulah ukuran yang lebih jujur.

Ada kaidah yang sangat terkenal dalam ilmu akhlak dan tasawuf,
اَلْأَخْلَاقُ مَعَ الْخَلْقِ مِيزَانُ مَا فِي الْقَلْبِ
Akhlak seseorang kepada makhluk menjadi ukuran dari apa yang ada di dalam hatinya.

Artinya, kalau hati penuh kasih, perilaku akan memancarkan kasih.
Kalau hati penuh kesombongan, perilaku akan memancarkan kesombongan.
Kalau hati penuh kebencian, lisan pasti akan mudah menyakiti.
Kalau hati dekat dengan Allah, ia pasti akan semakin lembut kepada manusia.

Karena itu, jangan merasa sudah memperbaiki hati hanya karena banyak berzikir dan bershalawat.
Tapi, lihatlah buahnya, lihatlah hasilnya:
Apakah setelah banyak berzikir kita menjadi lebih sabar?
Apakah setelah banyak membaca shalawat kita menjadi lebih lembut?
Apakah setelah banyak menghadiri majelis kita menjadi lebih mudah memaafkan?

Kalau jawabannya iya, berarti ilmu sudah masuk ke hati.
Tetapi kalau ilmu bertambah, sementara kesombongan juga bertambah, maka yang bertambah mungkin baru pengetahuan, belum kebijaksanaan.

Jemaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Swt.
Ada sebuah kisah, ada seorang anak yang setiap hari bekerja keras.
Ia bekerja sejak pagi. Pulang malam. Penghasilannya tidak besar, hanya cukup untuk kehidupan dia sehari-hari. Tetapi setiap bulan, ia selalu mengirim uang kepada ibunya.

Suatu hari, seorang temannya bertanya, “Kenapa kamu masih mengirim uang kepada ibumu sebanyak itu?”
Anak itu menjawab, “Karena ibuku sudah tua.”
Temannya bertanya lagi, “Bukankah ibumu sudah tidak membantumu secara ekonomi lagi?”, 
Dia menjawab “betul”

Temannya bertanya lagi“Lalu apa keuntunganmu mengurus ibumu?”
Anak itu diam.
Kemudian ia berkata,
“Dulu, ketika aku belum bisa apa-apa, ibuku tidak pernah bertanya apa keuntungannya membesarkan aku.”

Perhatikan jawaban dari anak ini, sangat sederhana.
Tetapi kalau kita renungkan, maknanya sangat dalam.
Ketika kita masih bayi: kita tidak punya uang, kita tidak punya jabatan, kita tidak punya rumah, kita tidak punya kendaraan.

Kita bahkan belum bisa mengucapkan terima kasih.
Tetapi ibu tetap merawat kita.

Ketika kita menangis, ibu bangun.
Ketika kita sakit, ibu cemas.
Ketika kita lapar, ibu mencari makanan.
Ketika kita jatuh, ibu mengangkat.

Sekarang kita sudah besar, dan Ibu sudah tua.
Lalu kita mulai menghitung-hitung biaya untuk merawat ibu.

Pertanyaannya.
Siapa sebenarnya yang lebih dulu memberikan sesuatu tanpa menghitung keuntungan? Ibu.
Dan siapa yang sekarang paling sering menghitung-hitung keuntungan? Kita.

Jamaah. Inilah jebakan pemikiran yang sering tidak kita sadari.
Kita menganggap orang yang berjasa adalah orang yang masih bisa memberikan sesuatu kepada kita.
Padahal orang yang paling berjasa justru sering menjadi orang yang sudah tidak mampu memberikan apa-apa kepada kita.

Di sinilah akhlak Nabi mengajarkan kita keluar dari logika keuntungan.
Kita berbuat baik bukan karena orang itu berguna bagi kita.
Kita berbuat baik karena Allah mencintai kebaikan.
Ini bukan sekadar logika perdagangan. Ini logika iman.

Kalau saya berbuat baik hanya karena mendapat keuntungan, itu transaksi.
Kalau saya berbuat baik meskipun tidak mendapatkan keuntungan, itu pengorbanan.
Dan kalau saya berbuat baik kepada orang yang bahkan tidak mampu membalas, itulah yang disebut ketulusan.

Jemaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Swt.
Maka di bulan Rabiul Awwal ini, jangan kita hanya bertanya, “Kapan Nabi lahir?”
Tetapi bertanyalah, “Akhlak apa yang sudah lahir dalam diri saya karena mencintai Nabi?”
Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak shalawat yang sudah aku baca?”
Tetapi tanyakan, “Sudahkah lisan saya berhenti menyakiti?”

Sebab ukuran keberhasilan bukan banyaknya majelis shalawat yang kita hadiri.
Ukuran keberhasilan adalah perubahan yang terjadi setelah kita pulang dari majelis.

Kalau setelah Rabiul Awwal kita menjadi lebih lembut, berarti kita membawa cahaya.
Kalau setelah mengenal Nabi kita menjadi lebih sabar, berarti cinta itu bekerja.
Kalau setelah membaca sejarah Nabi kita semakin sayang kepada manusia, berarti sunnah itu hidup.

Tetapi kalau setelah semua itu kita masih senang merendahkan, masih suka menyakiti, masih keras kepada keluarga, dan masih tidak peduli kepada orang lemah, maka mari kita kembali bertanya.

Jangan-jangan kita baru mengenal nama Nabi, tapi belum mengenal akhlaknya.
Jangan-jangan kita baru mencintai cerita tentang Nabi, tapi belum mencintai jalan hidup Nabi.
Jangan-jangan kita baru mengagungkan kelahiran Nabi, tetapi belum menghidupkan ajaran Nabi.

Maka, jamaah yang dimuliakan Allah.
Cintailah Nabi.
Perbanyaklah shalawat.
Pelajarilah sirahnya, sejarahnya.

Tetapi jangan berhenti di bibir.
Turunkan cinta itu ke hati.
Turunkan dari hati ke pikiran.
Turunkan dari pikiran ke perbuatan.

Sampai suatu hari, orang-orang di rumah kita berkata, “Sejak dia mengenal Rasulullah, dia menjadi lebih lembut.”
Tetangga kita berkata, “Sejak dia rajin menghadiri majelis, Dulu dia hanya mengenal saya sebagai tetangga, sekarang dia memperlakukan saya seperti saudaranya”
Anak kita berkata, “Ayahku memang tegas, tetapi ayahku adalah ayah yang sangat penyayang.”
Istri kita berkata, “Suamiku memang tidak sempurna, tetapi setiap hari ia sudah berusaha menjadi lebih lembut, lebih sabar, dan lebih mengerti.”
Dan orang tua kita berkata, “Ketika aku sudah tidak kuat berjalan, anakku tidak meninggalkanku. Tangan yang dahulu kugenggam ketika dia belajar berjalan, kini menjadi tangan yang menggenggamku ketika aku sudah tua.”

Itulah ketika Maulid tidak hanya menjadi acara.
Itulah ketika Maulid menjadi perubahan.
Itulah ketika cinta kepada Rasulullah benar-benar hidup.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHOTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهَ، أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. 
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ، رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.



Penulis:
Pengasuh Mahad Bahasa Adab